Di antara sekian banyak peringatan dan pelajaran yang berharga adalah tatkala seorang hamba dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sakaratul maut yang menimpa saudaranya. Sehingga Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah berita itu seperti melihat langsung." (HR. At-tirmidzi)  


"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya." (HR. Al-Bukhari)

Berikut tata cara untuk menuntun seseorang yang telah mengalami sakaratul maut.

1. Menalqin (menuntun) dengan syahadat

Sesuai sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, “Talqinilah orang yang akan wafat di antara kalian dengan, “Laa ilaha illallah”. Barangsiapa yang pada akhir ucapannya, ketika hendak wafat, ‘Laa ilaha illallah’, maka ia akan masuk surga suatu masa kelak, kendatipun akan mengalami sebelum itu musibah yang akan menimpanya.”

Bagi perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah Laa ilaha illallah dapat dilakukan pada pasien muslim menjelang ajalnya terutama saat pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir sehingga diupayakan pasien meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Para ulama berpendapat, ”Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali apabila ia berbicara dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan lain. Setelah itu barulah diulang kembali, agar bacaan Laa ilaha illallah menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama mengarahkan pada pentingnya menjenguk orang sakaratul maut, untuk mengingatkan, mengasihi, menutup kedua matanya dan memberikan hak-haknya." (Syarhu An-nawawi Ala Shahih Muslim : 6/458)

Ciri-ciri pokok pasien yang akan melepaskan nafasnya yang terakhir, yaitu:
  1. Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung, khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab.
  2. Kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
  3. Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
  4. Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes.
  5. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.

2. Hendaklah mendoakannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya kecuali kata-kata yang baik

Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda, “Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati, maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Maka kita harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas dari jasadnya.

3. Berbaik sangka kepada Allah

Kita membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT, seperti di dalam hadits Bukhari“ Tidak akan mati masing-masing kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT.” Hal ini menunjukkan apa yang kita pikirkan seringkali seperti apa yang terjadi pada kita karena Allah mengikuti perasangka umatNya.

4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)

5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat

Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw., hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut.

Para ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat:
1. Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap kearah kiblat.
2. Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke kiblat. Dan Imam Syaukani menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut berbaring kearah manapun yang membuatnya selesai.

Catatan Penting
Sebagian orang terbiasa membaca Al-Qur’an didekat orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dengan berdasarkan pada hadits:

1. “Bacalah surat Yasin untuk orang-orang yang meninggal dunia”
2. “Tidak ada seorang manusia yang mati, kemudian dibacakan surat Yasin untuknya, kecuali Allah mempermudah segala urusannya”

Padahal kedua hadits tersebut dianggap sebagai hadits dha’if, tidak boleh memasukkannya ke dalam kitab Hadits. Bahkan, Imam Malik telah mengatakan bahwa hukum membaca Al-Qur’an disisi mayat adalah makruh. Dalam Kitabnya ‘Syarhu As-Syaghiir’ (1/220): ”Dimakruhkan membaca salah satu ayat dalam Al-Qur’an ketika datang kematian. Karena, tindakan tersebut tidak pernah dilakukan oleh para salafus shalih. Sekalipun, semua itu diniatkan sebagai do’a, memohon ampun, kasih sayang dan mengambil pelajaran”.

Sumber : http://kekasihku-rasulullah.blogspot.com/2011/04/tata-cara-menuntun-orang-yang-sakaratul.html


3 comments:

JOIN US